LEBIH JAUH MENGENAL DARWIN
Bermula dari keterbatasan


Bermula dari keterbatasan


Darwin lahir di Hinalang (kecamatan Balige, Sumut), desa tempat Darwin melewatkan hidup masa kecilnya hingga berumur 5 tahun, sebelum pindah dan menyelesaikan pendidikan dasar hingga kelas 1 SMA di kecamatan Siborongborong (Sumut). Perawakan Darwin yang tergolong kecil ketika masih duduk di bangku SD dan SMP membuatnya sering terpinggirkan, misalnya tidak diajak ikut bermain sepak bola oleh teman-teman sekolahnya. Darwin juga pernah dipaksa/diintimidasi oleh teman jagoan di sekolah untuk beberapa kali mencuri uang orangtua, dan merasakan ketakutan dipukulin teman sekolah tersebut bila tidak menyetor uang curian. Setiap tiba musim kemarau dan sumur air di rumah kering, pagi-pagi buta sebelum berangkat ke sekolah, Darwin dan adiknya biasanya mengambil air dari sumber mata air berjarak empat km atau kurang lebih setengah jam satu arah berjalan tanpa sandal.

 

Ketika berusia 14 tahun, Darwin kehilangan Ayah yang meninggal pada usia 81 tahun dan keadaan itu memaksa Darwin harus ikut membantu ibunya mengurus hidup enam orang anggota keluarga yang masih sangat muda belia. Setelah ibu yang pertama meninggal, Ayah yang waktu itu sudah berumur 65 tahun, menikah dengan ibu Darwin yang baru berumur 21 tahun. Sejak Darwin berumur 6 tahun dan mulai bisa mengingat pengalaman hidup, Ayah sudah berumur 71 tahun dan sakit-sakitan serta banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Pendidikan terakhir kedua orang tua Darwin adalah tingkat  sekolah menengah pertama.

 

Pada umur 15 tahun, dengan harapan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, Darwin kemudian meninggalkan keluarga di Siborongborong dan berangkat marantau ke Jakarta dan hidup menumpang di rumah keluarga abang Darwin dari ibu pertama. Sejak pindah ke Jakarta mulai kelas 2 SMA, Darwin tidak ingin menjadi beban keluarga dan berupaya mandiri. Misalnya, sewaktu di SMAN 9 Bulungan Jakarta, setiap berangkat atau pulang sekolah Darwin sering berjalan kaki dan menahan terik matahari siang, sekalipun jarak antara rumah dan sekolah lebih dari 3 km. Saat selesai pelajaran olahraga dan Darwin tidak punya uang untuk membeli minuman, Darwin sering meminta bongkah es batu dari pedagang minuman dan mengunyahnya untuk menghilangkan rasa dahaga.

 

Sejak kuliah semester pertama di Universitas Indonesia, Darwin telah menjadikan uang beasiswa sebagai salah satu sandaran finansial. Darwin juga mengupayakan uang saku tambahan dengan memberikan les privat Fisika dan Matematika kepada siswa SMA. Akan tetapi, uang saku Darwin tetap saja sering tidak cukup untuk membayar ongkos naik bis ke kampus UI di Salemba (Jakarta) atau untuk membeli makan siang. Walau ongkos bus PPD saat itu hanya Rp50 sekali jalan, Darwin terkadang berdiri meski beberapa bangku bus saat itu masih ada yang kosong hanya untuk bisa membayar Rp25 saja. Umumnya saat makan siang Darwin hanya membeli separuh piring nasi, sepotong tahu goreng, dan minta ditambahkan kuah sop dengan berharap ada potongan daging dalam sop itu. Kadang juga Darwin harus menahan lapar tidak makan siang karena sedang tidak punya uang.

 

Setelah meraih S-1 dari Universitas Indonesia (UI) dan mulai bekerja di British Petroleum (BP), Darwin langsung mengambil alih tugas dan tanggung jawab untuk membiayai sekolah adik-adik hingga lulus universitas. Setelah bekerja satu tahun, keinginan terbesar saat itu adalah memiliki tempat tinggal sendiri agar bisa mengajak adik-adik dari kampung untuk tinggal bersama di Jakarta. Impian itu terwujud setelah memanfaatkan fasilitas KPR BTN dengan membeli sebuah rumah sederhana berdinding batako tanpa plester semen di perumahan Taman Duta, Cisalak, Depok. Tiga tahun setelahnya, Ibu pindah dari kampung dan tinggal bersama Darwin serta adik-adik di Cisalak. Darwin sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas berkat-Nya yang begitu besar sehingga semua adik Darwin bisa menyelesaikan pendidikan universitas.

Modal Pendidikan dan Kerja Keras


Modal Pendidikan dan Kerja Keras


Darwin menyelesaikan pendidikan SD, SMP hingga selesai kelas 1 SMA di Siborongborong, Sumatera Utara. Sewaktu bersekolah di SD dan SMP, Darwin adalah seorang murid yang biasa-biasa saja dan tidak menonjol dalam pelajaran. Kebanyakan nilai rapor Darwin adalah angka enam, dan satu mata pelajaran penting seperti ilmu alam hanya angka lima.  Titik belok akademis Darwin terjadi ketika Darwin masih duduk di kelas 3 SMP. Suatu hari Darwin pulang ke rumah dengan membawa pekerjaan rumah yang telah diperiksa dan dinilai oleh guru. Kebetulan nilai pekerjaan rumah Darwin saat itu agak baik. Di hari itu, dokter puskemas Siborongborong sedang berada di rumah mengontrol kondisi kesehatan Ayah. Dokter itu menanyakan perkembangan sekolah, dan karena tidak tahu bagaimana menjawabnya, Darwin tunjukkan pekerjaan rumah yang dapat nilai baik itu. Dokter itu memujinya sebagai anak yang pintar, menepuk bahu, dan mengatakan bahwa Darwin akan bisa berhasil seperti dia.

 

Tepukan di bahu itu dan ungkapan bahwa Darwin pintar dan bisa berhasil seperti dia, seketika menumbuhkan rasa percaya diri dan mengubah hidup Darwin. Tanpa disuruh atau dipaksa orangtua, Darwin mulai rajin belajar. Sewaktu duduk di kelas 1 SMA Negeri I Siborong-borong, predikat juara umum diraihnya. Pindah ke SMAN9 Jakarta mulai kelas 2 SMA, Darwin berhasil mempertahankan predikat juara kelas selama bersekolah di SMAN yang sekarang menjadi SMAN 70, Bulungan, Jakarta.

 

Ketika Darwin duduk di kelas 3 SMA, untuk pertama kali pemerintah memperkenalkan seleksi masuk perguruan tinggi negeri tanpa testing Perintis II, namun program studi yang dibuka adalah empat jurusan FMIPA seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi di ITB, UI, IPB, UGM dan ITS. Di antara pilihan yang ada, Darwin memilih Fisika di FMIPA UI karena suka fisika dan tidak mau membebani keluarga untuk membiayai kuliah di luar kota. Ketika mendapat kabar diterima di Fisika UI, Darwin agak bingung apakah akan menerima atau tidak. Darwin tidak memiliki informasi lain atau nasihat memadai dalam mempertimbangkan pilihan yang tersedia saat itu. Akhirnya Darwin menerima dan senang masuk ke FMIPA Universitas Indonesia pada tahun 1980.

 

Akan tetapi, kebanggan Darwin masuk Fisika UI hanya berlangsung sebentar karena kehidupan sosial berkuliah di Jurusan Fisika cukup berbeda dengan apa yang Darwin bayangkan sebelumnya. Setelah masuk di Fisika UI, Darwin merasa kecewa diperlakukan masyarakat dan rekan satu universitas sebagai mahasiswa kelas dua, dibandingkan teman-teman yang memilih dan diterima di Fakultas Teknik, Kedokteran, atau Ekonomi. Tidak melihat kemungkinan adanya jalan mutar balik, Darwin memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Fisika UI, membangun kembali semangat belajar dan mencari berbagai kemungkinan terobosan membuka peluang kelanjutan dari pendidikan di Fisika UI.

 

Di tahun ke 4 masa kuliah, Jurusan Fisika UI termasuk salah satu yang dikunjungi oleh dua profesor fisika, dari Universitas Stanford dan Universitas Tufts mewakili konsorsium sepuluh universitas dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat, untuk mencari mahasisiwa/i fisika berbakat dari negara berkembang seperti Indonesia. Darwin termasuk satu dari delapan orang mahasiswa/i angkatan 1979-1980 yang diajukan untuk di uji potensinya lewat wawancara. Berdasarkan hasil wawancara itu, Darwin mendapatkan surat undangan atau ajakan dari empat dari sepuluh universitas itu meminta agar Darwin mengajukan surat lamaran melanjutkan pendidikan S-2 dengan financial assistance dari universitas tersebut.

 

Secara paralel, di tahun ke 3 masa kuliah di FMIPA UI, Jurusan Fisika juga membuka bidang kekhususan geofisika. Dengan prospek kerja di sektor migas, Darwin memutuskan memanfaatkan kesempatan tersebut dan menjadikan kekhususan geofisika sebagai topik skripsi S-1 yang kemudian membawa Darwin mendapat tawaran pekerjaan di British Petroleum (BP). Darwin menyelesaikan pendidikan sarjana fisika pada 1985 dengan predikat lulus tercepat dan meraih angka terbaik seangkatan. Karena lebih membutuhkan bekerja agar bisa membantu keluarga, Darwin memilih tidak meneruskan upaya melanjutkan ke S-2 di Amerika Serikat karena sudah diterima bekerja di BP

 

Setelah bekerja 5 tahun lebih di BP, Darwin memperoleh kesempatan penempatan kerja di BP Amerika (Houston) selama 2 1/2 tahun. Tanpa di duga Darwin sebelumnya, tidak lama setelah Darwin memulai bekerja di BP Amerika, industri migas memasuki masa krisis seiring penurunan harga minyak dunia. Sebagaimana umumnya di masa siklus industri lagi mengalami kontraksi, sejumlah rekan sekerja Darwin di BP Amerika mengalami pemutusan hubungan kerja. Hal itu menyadarkan Darwin akan pentingnya memiliki keahlian tambahan yang lebih umum, bisa terpakai dari satu industri ke industri lainnya.

 

Darwin kemudian memakai kesempatan emas selama bekerja di Houston untuk mengikuti program MBA yang berlangsung pada sore/malam hari di University of Houston. Dengan jam kerja 08.00 – 16.30 di BP Amerika, Darwin kuliah di malam hari mulai pukul 17.30 dan selesai pukul 21.30, dari Senin sampai Kamis setiap minggu. Sepulang kuliah Darwin masih harus mengerjakan tugas-tugas, dan baru bisa tidur pada pukul 24.00 malam. Pukul 05.00 pagi Darwin harus bangun untuk mengerjakan tugas kuliah, sebelum kemudian berangkat kerja. Rutinitas seperti itu Darwin jalani selama dua tahun. Darwin berhasil menyelesasikan program MBA dengan penghargaan Dean’s Award for Academic Excellence dan Beta Gamma Sigma.

 

Sepuluh tahun setelah Darwin menyelesaikan MBA, dan sewaktu bekerja di Booz Allen Hamilton Indonesia, Darwin mengupayakan agar disponsori ke pendidikan eksekutif senior Advanced Management Program (AMP) di Harvard Business School. Program AMP didesain untuk peserta dengan pengalaman kerja 15-20 tahun dan telah menjadi eksekutif senior di organisasi yang besar serta merupakan pendidikan lanjut mempersiapkan peserta menahap karier lebih tinggi di perusahaan atau kantor pemerintah tempat peserta bekerja. Berbeda dengan program MBA yang membutuhkan 2 tahun, program AMP itu sendiri dikenal sebagai pendidikan super intensif selama 9 minggu, untuk mengakomodasi keterbatasan para eksekutif senior meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama. Kesempatan mengikuti pendidikan AMP terjadi pada tahun 2003 saat usia Darwin 41 tahun, yang merupakan tahun ketiga Darwin bekerja di Booz Allen Hamilton Indonesia sebagai Country CEO. Atas rekomendasi Eric Spiegel (Managing Director untuk Asia Pacific), Booz Allen mensponsori Darwin untuk mengikuti program AMP di Harvard Business School, suatu pengalaman yang mengubah hidup dan paradigma Darwin tentang kehidupan dan kepemimpinan

 

Passion Darwin untuk terus membangun kompetensi dan karier berikutnya dengan pendidikan tidak pernah berhenti. Hingga sekarang, kerinduan untuk mengikuti program S-3 masih menjadi salah satu tujuan yang ingin Darwin wujudkan. Tahun 1996, Darwin mendaftar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan mengikuti kuliah program S-3 bidang Ekonomi Pembangunan. Darwin telah menyelesaikan seluruh mata kuliah wajib, namun terhenti pada 1998 saat ikut masuk ke kantor Kementerian BUMN. Keinginan yang terbengkalai itu kemudian Darwin lanjutkan ketika mendaftar mengikuti program S-3 atau DBA (Doctor of Business Administration) di University of Western Australia, Perth pada 2005. Darwin menyelesaikan seluruh mata kuliah dan lulus mempertahankan proposal riset DBA dengan gelar MMR (Master of Management Research). Akan tetapi, pendidikan doktoral yang ikuti itu berhenti lagi ketika Darwin mulai bekerja di Shell tahun 2007. Darwin tetap berharap untuk suatu saat dimasa datang bisa menyelesaikan program S-3.

Dari pembelajar fisika ke strategi dan kepemimpinan perubahan


Dari pembelajar fisika ke strategi dan kepemimpinan perubahan


Sering Darwin ditanya; bagaimana bisa dari seorang pembelajar fisika menjadi CEO perusahaan multinasional?

 

Dengan karier awal Darwin sebagai geophysicist, lingkup pekerjaannya memang sangat teknis – berbasiskan fisika, matematika dan geologi. Tahapan pekerjaan seorang geophysicist umumnya dimulai dengan merancang dan mengawasi seismic data acquisition di lapangan sebelum menahap ke seismic data processing di pusat pengolahan data. Pekerjaaan utama seorang geophysicist yang bekerja di perusahaan migas lebih pada setelahnya, yaitu seismic data modelling dan interpretation sebagai bagian dari kajian terintegrasi bersama geologists, petroleum engineers dan drilling engineers dalam upaya mencari cadangan baru atau mengembangkan cadangan migas yang telah ditemukan hingga lapangan migas tersebut beproduksi.

 

Darwin menikmati pekerjaan sebagai geophysicist dan selalu berupaya memberikan kinerja yang terbaik dimanapun Darwin ditempatkan. Tanpa direncanakan, belokan penting pertama dalam perjalanan karier Darwin terjadi pada tahun ketiga (1988) bekerja di BP, beberapa bulan setelah kembali dari penugasan kerja enam bulan di Inggris dan Skotlandia. Pimpinan BP Indonesia saat itu, Dr. Gess Laving memanggil dan mengatakan bahwa BP sedang mempertimbangkan Darwin untuk dinominasikan mengikuti program talent assessment and development di Melbourne, Australia untuk pegawai BP di Asia Pacific yang dipandang berpotensi tinggi. Gess menanyakan kesediaan Darwin dan menambahkan bahwa Darwin akan menjadi pegawai Indonesia pertama yang dinominasikan mengikuti program itu.

 

Beberapa saat setelah akhirnya menyanggupinya, Darwin kaget ketika dikirimi bahan bacaan dan assignments yang harus diselesaikan sebelum berangkat ke Australia. Bahannya adalah sejumlah case studies dari Harvard Business School, dan Darwin diminta melakukan bedah kasus serta menulis makalah yang memuat bahasan tentang kasus tersebut. Itu adalah pertama kali dalam hidup Darwin tahu tentang case studies dari Harvard, sekaligus persinggungan Darwin yang pertama dengan dunia manajemen karena semasa kuliah, Darwin belum pernah belajar ekonomi atau manajemen. Hasil positif dari assessment ini menyadarkan Darwin akan potensinya di luar fisika.

 

Setelah kembali ke Indonesia dari penempatan kerja 2 1/2 tahun di BP Amerika dan telah menyelesaikan pendidikan MBA, Darwin mulai menjajaki peluang karier komersial baik di BP maupun diluar BP. Peluang karier di luar BP lebih cepat datang, dan setelah 9 tahun lebih bekerja di BP, Darwin pamit dengan baik baik dan pindah ke Dharmala Group sebagai Asisten Group CEO – bekerja dibawah pak Suyanto Gondokusumo saat itu. Di Dharmala, Darwin pertama kali mengetahui adanya perusahaan yang disebut management consultants dan peran yang dimainkannya dalam pembenahan perusahaan. Salah satu dari mereka adalah AT Kearney, yang waktu itu melakukan suatu pekerjaan strategis di sektor jasa keuangan di grup Dharmala. Melihat hasil kerja mereka, Darwin sangat tertarik, karena itu adalah jenis pekerjaan yang menerapkan kemampuan analitis dan pemikiran strategis dalam persoalan bisnis dan organisasi. Darwin merasa seperti menemukan jenis pekerjaan yang selama ini Darwin cari-cari, yaitu applikasi fisika dan matematika dalam ilmu sosial

 

Darwin mulai tertarik dengan management consulting, dan mengirim lamaran ke perusahaan-perusahaan elit dibidang itu seperti McKinsey, BCG, Booz Allen Hamilton, dan AT Kearney. Saat itu belum ada internet untuk mencari banyak informasi, dan Darwin juga belum terlalu paham bahwa perusahaan-perusahaan itu pada umumnya hanya menerima lulusan dari business schools terbaik di dunia, dan biasanya para pelamar membekali diri dengan latihan intensif case interviews untuk bisa melewati seleksi dengan baik. Darwin dapat kesempatan wawancara pertama di BCG dan Booz Allen. Wawancara di kedua perusahaan ini tidak memberikan hasil yang Darwin harapkan. Darwin tidak mendapatkan feedback dari wawancara di Booz Allen, sementara walau terasa menyakitkan, BCG memberikan feedback secara formal melalui telepon bahwa performa Darwin dalam wawancara kurang memenuhi standar yang mereka inginkan.

 

Setelah pindah dari Dharmala dan bekerja bersama pak Tanri Abeng di Bakrie & Brothers dan kemudian ke kantor Kementerian Negara BUMN, Darwin malah banyak terlibat dengan pekerjaan konsultan manajemen—meski bukan sebagai konsultan—tetapi sebagai lead counterpart di sisi clients atau pemakai jasa. Di Bakrie & Brothers, Darwin pernah menjadi lead counterpart Booz Allen dan McKinsey, dan melalui kegiatan ini kemudian berkenalan dan membangun persahabatan dengan para mitra senior dari perusahaan konsultan manajemen tersebut. Di Kementerian Negara BUMN, Darwin terlibat dalam penyusunan masterplan atau blueprint reformasi BUMN gelombang kedua dan menjadi lead counterpart untuk koordinator enam konsultan manajemen yang juga membantu menyempurnakan masterplan ini, yaitu McKinsey, BCG, Booz Allen, AT Kearney, PWC, dan EY.

 

Setelah pergantian menteri di Kementerian BUMN, Darwin berpikir inilah saat baginya untuk menahap ke depan, juga dengan ketertarikan yang semakin besar pada pekerjaan konsultan manajemen. Dengan pengalaman bekerja secara bersama-sama dengan para mitra senior dari perusahaan konsultan manajemen ini, mereka tidak lagi melihat Darwin dari ijazah sekolah atau dari ketrampilan dalam wawancara. Darwin kemudian mendapatkan kesempatan wawancara untuk masuk dalam posisi senior di McKinsey dan Booz Allen Hamilton. Pembicaraan dengan Booz Allen Hamilton berlangsung lebih cepat. Darwin memulai bekerja sebagai Country CEO Booz Allen Hamilton Indonesia, dan selama tujuh tahun dari awal 2000 hingga awal 2007, Darwin menjadi pembelajar sekaligus praktisi dan ahli di bidang strategi dan kepemimpinan perubahan.

 

Selama bekerja sebagai konsultan BoozAllen, Darwin memberikan nasehat pada pimpinan perusahaan atau pejabat pemerintah terkait isu isu strategi, pemasaran, organisasi, operasi dan kepemimpinan perubahan. Perusahaan perusahaan yang menjadi klien BoozAllen adalah pemain utama di sektor telekomunikasi, penerbangan, energi, otomotif dan perbankan selain perusahaan multinasional yang tertarik memasuki Indonesia. Salah satu contoh transformasi yang dibantu tim Booz Allen Hamilton adalah transformasi Telkomsel yang kemudian dijadikan sebagai studi kasus transformasi BUMN di negara berkembang oleh Stanford Business School.

 

Setelah lebih dari 7 tahun sebagai konsultan strategi dan kepemimpinan perubahan di Booz Allen, Darwin kembali merindukan bekerja sebagai eksekutif. Pembicaraan dengan Shell bermula pada pertemuan dengan Tan Chong Meng, yang saat itu merupakan orang Asia paling senior di Shell dan juga sebagai Chairman Asia Talent Council, yang bertugas menjaring dan mengembangkan talent Asia—baik internal maupun eksternal—untuk mengisi posisi atau jabatan senior di Shell. Saat kami berdua bertemu pertama kali pada awal tahun 2006, Chong Meng mengatakan bahwa lingkup usaha Shell Indonesia saat itu masih sangat kecil dan utamanya pemasaran pelumas. Akan tetapi Shell memiliki aspirasi yang besar di Indonesia, dan Shell sedang mencari dan akan membutuhkan nahkoda orang Indonesia untuk dapat merealisasikan aspirasi Shell di Indonesia. Setelah 12 kali mengikuti wawancara yang berlangsung di Jakarta, Singapura, dan London selama hampir 1 tahun, akhirnya saya diterima bekerja sebagai CEO Shell Indonesia sejak April 2007.

 

Sejatinya, Shell bukanlah perusahaan yang sering merekrut calon eksekutif dari luar untuk menjabat suatu posisi senior. Hal itulah yang membuat pengangkatan Darwin sebagai eksekutif senior di Shell Indonesia terkadang menjadi topik pembicaraan di berbagai kesempatan termasuk di media. Misalnya, saat Darwin menghadiri undangan makan siang di kediaman Duta Besar Singapura, Ashok Mirpuri memperkenalkan Darwin sebagai external hire yang langsung menjadi Country Chairman, suatu peristiwa yang sangat jarang terjadi di Shell. Bukan hanya itu, Dubes Ashok juga menyebutkan bahwa Darwin adalah orang Indonesia pertama yang menjadi CEO Shell Indonesia. Dubes Ashok memang mengetahui banyak hal tentang Shell, karena jauh sebelum bertugas sebagai Dubes Singapura di Jakarta, beliau pernah bertugas di Shell London.

© Darwin Silalahi | Visitors: 14,573
Bermula dari keterbatasan


Bermula dari keterbatasan


Darwin lahir di Hinalang (kecamatan Balige, Sumut), desa tempat Darwin melewatkan hidup masa kecilnya hingga berumur 5 tahun, sebelum pindah dan menyelesaikan pendidikan dasar hingga kelas 1 SMA di kecamatan Siborongborong (Sumut). Perawakan Darwin yang tergolong kecil ketika masih duduk di bangku SD dan SMP membuatnya sering terpinggirkan, misalnya tidak diajak ikut bermain sepak bola oleh teman-teman sekolahnya. Darwin juga pernah dipaksa/diintimidasi oleh teman jagoan di sekolah untuk beberapa kali mencuri uang orangtua, dan merasakan ketakutan dipukulin teman sekolah tersebut bila tidak menyetor uang curian. Setiap tiba musim kemarau dan sumur air di rumah kering, pagi-pagi buta sebelum berangkat ke sekolah, Darwin dan adiknya biasanya mengambil air dari sumber mata air berjarak empat km atau kurang lebih setengah jam satu arah berjalan tanpa sandal.

 

Ketika berusia 14 tahun, Darwin kehilangan Ayah yang meninggal pada usia 81 tahun dan keadaan itu memaksa Darwin harus ikut membantu ibunya mengurus hidup enam orang anggota keluarga yang masih sangat muda belia. Setelah ibu yang pertama meninggal, Ayah yang waktu itu sudah berumur 65 tahun, menikah dengan ibu Darwin yang baru berumur 21 tahun. Sejak Darwin berumur 6 tahun dan mulai bisa mengingat pengalaman hidup, Ayah sudah berumur 71 tahun dan sakit-sakitan serta banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Pendidikan terakhir kedua orang tua Darwin adalah tingkat  sekolah menengah pertama.

 

Pada umur 15 tahun, dengan harapan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, Darwin kemudian meninggalkan keluarga di Siborongborong dan berangkat marantau ke Jakarta dan hidup menumpang di rumah keluarga abang Darwin dari ibu pertama. Sejak pindah ke Jakarta mulai kelas 2 SMA, Darwin tidak ingin menjadi beban keluarga dan berupaya mandiri. Misalnya, sewaktu di SMAN 9 Bulungan Jakarta, setiap berangkat atau pulang sekolah Darwin sering berjalan kaki dan menahan terik matahari siang, sekalipun jarak antara rumah dan sekolah lebih dari 3 km. Saat selesai pelajaran olahraga dan Darwin tidak punya uang untuk membeli minuman, Darwin sering meminta bongkah es batu dari pedagang minuman dan mengunyahnya untuk menghilangkan rasa dahaga.

 

Sejak kuliah semester pertama di Universitas Indonesia, Darwin telah menjadikan uang beasiswa sebagai salah satu sandaran finansial. Darwin juga mengupayakan uang saku tambahan dengan memberikan les privat Fisika dan Matematika kepada siswa SMA. Akan tetapi, uang saku Darwin tetap saja sering tidak cukup untuk membayar ongkos naik bis ke kampus UI di Salemba (Jakarta) atau untuk membeli makan siang. Walau ongkos bus PPD saat itu hanya Rp50 sekali jalan, Darwin terkadang berdiri meski beberapa bangku bus saat itu masih ada yang kosong hanya untuk bisa membayar Rp25 saja. Umumnya saat makan siang Darwin hanya membeli separuh piring nasi, sepotong tahu goreng, dan minta ditambahkan kuah sop dengan berharap ada potongan daging dalam sop itu. Kadang juga Darwin harus menahan lapar tidak makan siang karena sedang tidak punya uang.

 

Setelah meraih S-1 dari Universitas Indonesia (UI) dan mulai bekerja di British Petroleum (BP), Darwin langsung mengambil alih tugas dan tanggung jawab untuk membiayai sekolah adik-adik hingga lulus universitas. Setelah bekerja satu tahun, keinginan terbesar saat itu adalah memiliki tempat tinggal sendiri agar bisa mengajak adik-adik dari kampung untuk tinggal bersama di Jakarta. Impian itu terwujud setelah memanfaatkan fasilitas KPR BTN dengan membeli sebuah rumah sederhana berdinding batako tanpa plester semen di perumahan Taman Duta, Cisalak, Depok. Tiga tahun setelahnya, Ibu pindah dari kampung dan tinggal bersama Darwin serta adik-adik di Cisalak. Darwin sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas berkat-Nya yang begitu besar sehingga semua adik Darwin bisa menyelesaikan pendidikan universitas.

Modal Pendidikan dan Kerja Keras


Modal Pendidikan dan Kerja Keras


Darwin menyelesaikan pendidikan SD, SMP hingga selesai kelas 1 SMA di Siborongborong, Sumatera Utara. Sewaktu bersekolah di SD dan SMP, Darwin adalah seorang murid yang biasa-biasa saja dan tidak menonjol dalam pelajaran. Kebanyakan nilai rapor Darwin adalah angka enam, dan satu mata pelajaran penting seperti ilmu alam hanya angka lima.  Titik belok akademis Darwin terjadi ketika Darwin masih duduk di kelas 3 SMP. Suatu hari Darwin pulang ke rumah dengan membawa pekerjaan rumah yang telah diperiksa dan dinilai oleh guru. Kebetulan nilai pekerjaan rumah Darwin saat itu agak baik. Di hari itu, dokter puskemas Siborongborong sedang berada di rumah mengontrol kondisi kesehatan Ayah. Dokter itu menanyakan perkembangan sekolah, dan karena tidak tahu bagaimana menjawabnya, Darwin tunjukkan pekerjaan rumah yang dapat nilai baik itu. Dokter itu memujinya sebagai anak yang pintar, menepuk bahu, dan mengatakan bahwa Darwin akan bisa berhasil seperti dia.

 

Tepukan di bahu itu dan ungkapan bahwa Darwin pintar dan bisa berhasil seperti dia, seketika menumbuhkan rasa percaya diri dan mengubah hidup Darwin. Tanpa disuruh atau dipaksa orangtua, Darwin mulai rajin belajar. Sewaktu duduk di kelas 1 SMA Negeri I Siborong-borong, predikat juara umum diraihnya. Pindah ke SMAN9 Jakarta mulai kelas 2 SMA, Darwin berhasil mempertahankan predikat juara kelas selama bersekolah di SMAN yang sekarang menjadi SMAN 70, Bulungan, Jakarta.

 

Ketika Darwin duduk di kelas 3 SMA, untuk pertama kali pemerintah memperkenalkan seleksi masuk perguruan tinggi negeri tanpa testing Perintis II, namun program studi yang dibuka adalah empat jurusan FMIPA seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi di ITB, UI, IPB, UGM dan ITS. Di antara pilihan yang ada, Darwin memilih Fisika di FMIPA UI karena suka fisika dan tidak mau membebani keluarga untuk membiayai kuliah di luar kota. Ketika mendapat kabar diterima di Fisika UI, Darwin agak bingung apakah akan menerima atau tidak. Darwin tidak memiliki informasi lain atau nasihat memadai dalam mempertimbangkan pilihan yang tersedia saat itu. Akhirnya Darwin menerima dan senang masuk ke FMIPA Universitas Indonesia pada tahun 1980.

 

Akan tetapi, kebanggan Darwin masuk Fisika UI hanya berlangsung sebentar karena kehidupan sosial berkuliah di Jurusan Fisika cukup berbeda dengan apa yang Darwin bayangkan sebelumnya. Setelah masuk di Fisika UI, Darwin merasa kecewa diperlakukan masyarakat dan rekan satu universitas sebagai mahasiswa kelas dua, dibandingkan teman-teman yang memilih dan diterima di Fakultas Teknik, Kedokteran, atau Ekonomi. Tidak melihat kemungkinan adanya jalan mutar balik, Darwin memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Fisika UI, membangun kembali semangat belajar dan mencari berbagai kemungkinan terobosan membuka peluang kelanjutan dari pendidikan di Fisika UI.

 

Di tahun ke 4 masa kuliah, Jurusan Fisika UI termasuk salah satu yang dikunjungi oleh dua profesor fisika, dari Universitas Stanford dan Universitas Tufts mewakili konsorsium sepuluh universitas dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat, untuk mencari mahasisiwa/i fisika berbakat dari negara berkembang seperti Indonesia. Darwin termasuk satu dari delapan orang mahasiswa/i angkatan 1979-1980 yang diajukan untuk di uji potensinya lewat wawancara. Berdasarkan hasil wawancara itu, Darwin mendapatkan surat undangan atau ajakan dari empat dari sepuluh universitas itu meminta agar Darwin mengajukan surat lamaran melanjutkan pendidikan S-2 dengan financial assistance dari universitas tersebut.

 

Secara paralel, di tahun ke 3 masa kuliah di FMIPA UI, Jurusan Fisika juga membuka bidang kekhususan geofisika. Dengan prospek kerja di sektor migas, Darwin memutuskan memanfaatkan kesempatan tersebut dan menjadikan kekhususan geofisika sebagai topik skripsi S-1 yang kemudian membawa Darwin mendapat tawaran pekerjaan di British Petroleum (BP). Darwin menyelesaikan pendidikan sarjana fisika pada 1985 dengan predikat lulus tercepat dan meraih angka terbaik seangkatan. Karena lebih membutuhkan bekerja agar bisa membantu keluarga, Darwin memilih tidak meneruskan upaya melanjutkan ke S-2 di Amerika Serikat karena sudah diterima bekerja di BP

 

Setelah bekerja 5 tahun lebih di BP, Darwin memperoleh kesempatan penempatan kerja di BP Amerika (Houston) selama 2 1/2 tahun. Tanpa di duga Darwin sebelumnya, tidak lama setelah Darwin memulai bekerja di BP Amerika, industri migas memasuki masa krisis seiring penurunan harga minyak dunia. Sebagaimana umumnya di masa siklus industri lagi mengalami kontraksi, sejumlah rekan sekerja Darwin di BP Amerika mengalami pemutusan hubungan kerja. Hal itu menyadarkan Darwin akan pentingnya memiliki keahlian tambahan yang lebih umum, bisa terpakai dari satu industri ke industri lainnya.

 

Darwin kemudian memakai kesempatan emas selama bekerja di Houston untuk mengikuti program MBA yang berlangsung pada sore/malam hari di University of Houston. Dengan jam kerja 08.00 – 16.30 di BP Amerika, Darwin kuliah di malam hari mulai pukul 17.30 dan selesai pukul 21.30, dari Senin sampai Kamis setiap minggu. Sepulang kuliah Darwin masih harus mengerjakan tugas-tugas, dan baru bisa tidur pada pukul 24.00 malam. Pukul 05.00 pagi Darwin harus bangun untuk mengerjakan tugas kuliah, sebelum kemudian berangkat kerja. Rutinitas seperti itu Darwin jalani selama dua tahun. Darwin berhasil menyelesasikan program MBA dengan penghargaan Dean’s Award for Academic Excellence dan Beta Gamma Sigma.

 

Sepuluh tahun setelah Darwin menyelesaikan MBA, dan sewaktu bekerja di Booz Allen Hamilton Indonesia, Darwin mengupayakan agar disponsori ke pendidikan eksekutif senior Advanced Management Program (AMP) di Harvard Business School. Program AMP didesain untuk peserta dengan pengalaman kerja 15-20 tahun dan telah menjadi eksekutif senior di organisasi yang besar serta merupakan pendidikan lanjut mempersiapkan peserta menahap karier lebih tinggi di perusahaan atau kantor pemerintah tempat peserta bekerja. Berbeda dengan program MBA yang membutuhkan 2 tahun, program AMP itu sendiri dikenal sebagai pendidikan super intensif selama 9 minggu, untuk mengakomodasi keterbatasan para eksekutif senior meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama. Kesempatan mengikuti pendidikan AMP terjadi pada tahun 2003 saat usia Darwin 41 tahun, yang merupakan tahun ketiga Darwin bekerja di Booz Allen Hamilton Indonesia sebagai Country CEO. Atas rekomendasi Eric Spiegel (Managing Director untuk Asia Pacific), Booz Allen mensponsori Darwin untuk mengikuti program AMP di Harvard Business School, suatu pengalaman yang mengubah hidup dan paradigma Darwin tentang kehidupan dan kepemimpinan

 

Passion Darwin untuk terus membangun kompetensi dan karier berikutnya dengan pendidikan tidak pernah berhenti. Hingga sekarang, kerinduan untuk mengikuti program S-3 masih menjadi salah satu tujuan yang ingin Darwin wujudkan. Tahun 1996, Darwin mendaftar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan mengikuti kuliah program S-3 bidang Ekonomi Pembangunan. Darwin telah menyelesaikan seluruh mata kuliah wajib, namun terhenti pada 1998 saat ikut masuk ke kantor Kementerian BUMN. Keinginan yang terbengkalai itu kemudian Darwin lanjutkan ketika mendaftar mengikuti program S-3 atau DBA (Doctor of Business Administration) di University of Western Australia, Perth pada 2005. Darwin menyelesaikan seluruh mata kuliah dan lulus mempertahankan proposal riset DBA dengan gelar MMR (Master of Management Research). Akan tetapi, pendidikan doktoral yang ikuti itu berhenti lagi ketika Darwin mulai bekerja di Shell tahun 2007. Darwin tetap berharap untuk suatu saat dimasa datang bisa menyelesaikan program S-3.

Dari pembelajar fisika ke strategi dan kepemimpinan perubahan


Dari pembelajar fisika ke strategi dan kepemimpinan perubahan


Sering Darwin ditanya; bagaimana bisa dari seorang pembelajar fisika menjadi CEO perusahaan multinasional?

 

Dengan karier awal Darwin sebagai geophysicist, lingkup pekerjaannya memang sangat teknis – berbasiskan fisika, matematika dan geologi. Tahapan pekerjaan seorang geophysicist umumnya dimulai dengan merancang dan mengawasi seismic data acquisition di lapangan sebelum menahap ke seismic data processing di pusat pengolahan data. Pekerjaaan utama seorang geophysicist yang bekerja di perusahaan migas lebih pada setelahnya, yaitu seismic data modelling dan interpretation sebagai bagian dari kajian terintegrasi bersama geologists, petroleum engineers dan drilling engineers dalam upaya mencari cadangan baru atau mengembangkan cadangan migas yang telah ditemukan hingga lapangan migas tersebut beproduksi.

 

Darwin menikmati pekerjaan sebagai geophysicist dan selalu berupaya memberikan kinerja yang terbaik dimanapun Darwin ditempatkan. Tanpa direncanakan, belokan penting pertama dalam perjalanan karier Darwin terjadi pada tahun ketiga (1988) bekerja di BP, beberapa bulan setelah kembali dari penugasan kerja enam bulan di Inggris dan Skotlandia. Pimpinan BP Indonesia saat itu, Dr. Gess Laving memanggil dan mengatakan bahwa BP sedang mempertimbangkan Darwin untuk dinominasikan mengikuti program talent assessment and development di Melbourne, Australia untuk pegawai BP di Asia Pacific yang dipandang berpotensi tinggi. Gess menanyakan kesediaan Darwin dan menambahkan bahwa Darwin akan menjadi pegawai Indonesia pertama yang dinominasikan mengikuti program itu.

 

Beberapa saat setelah akhirnya menyanggupinya, Darwin kaget ketika dikirimi bahan bacaan dan assignments yang harus diselesaikan sebelum berangkat ke Australia. Bahannya adalah sejumlah case studies dari Harvard Business School, dan Darwin diminta melakukan bedah kasus serta menulis makalah yang memuat bahasan tentang kasus tersebut. Itu adalah pertama kali dalam hidup Darwin tahu tentang case studies dari Harvard, sekaligus persinggungan Darwin yang pertama dengan dunia manajemen karena semasa kuliah, Darwin belum pernah belajar ekonomi atau manajemen. Hasil positif dari assessment ini menyadarkan Darwin akan potensinya di luar fisika.

 

Setelah kembali ke Indonesia dari penempatan kerja 2 1/2 tahun di BP Amerika dan telah menyelesaikan pendidikan MBA, Darwin mulai menjajaki peluang karier komersial baik di BP maupun diluar BP. Peluang karier di luar BP lebih cepat datang, dan setelah 9 tahun lebih bekerja di BP, Darwin pamit dengan baik baik dan pindah ke Dharmala Group sebagai Asisten Group CEO – bekerja dibawah pak Suyanto Gondokusumo saat itu. Di Dharmala, Darwin pertama kali mengetahui adanya perusahaan yang disebut management consultants dan peran yang dimainkannya dalam pembenahan perusahaan. Salah satu dari mereka adalah AT Kearney, yang waktu itu melakukan suatu pekerjaan strategis di sektor jasa keuangan di grup Dharmala. Melihat hasil kerja mereka, Darwin sangat tertarik, karena itu adalah jenis pekerjaan yang menerapkan kemampuan analitis dan pemikiran strategis dalam persoalan bisnis dan organisasi. Darwin merasa seperti menemukan jenis pekerjaan yang selama ini Darwin cari-cari, yaitu applikasi fisika dan matematika dalam ilmu sosial

 

Darwin mulai tertarik dengan management consulting, dan mengirim lamaran ke perusahaan-perusahaan elit dibidang itu seperti McKinsey, BCG, Booz Allen Hamilton, dan AT Kearney. Saat itu belum ada internet untuk mencari banyak informasi, dan Darwin juga belum terlalu paham bahwa perusahaan-perusahaan itu pada umumnya hanya menerima lulusan dari business schools terbaik di dunia, dan biasanya para pelamar membekali diri dengan latihan intensif case interviews untuk bisa melewati seleksi dengan baik. Darwin dapat kesempatan wawancara pertama di BCG dan Booz Allen. Wawancara di kedua perusahaan ini tidak memberikan hasil yang Darwin harapkan. Darwin tidak mendapatkan feedback dari wawancara di Booz Allen, sementara walau terasa menyakitkan, BCG memberikan feedback secara formal melalui telepon bahwa performa Darwin dalam wawancara kurang memenuhi standar yang mereka inginkan.

 

Setelah pindah dari Dharmala dan bekerja bersama pak Tanri Abeng di Bakrie & Brothers dan kemudian ke kantor Kementerian Negara BUMN, Darwin malah banyak terlibat dengan pekerjaan konsultan manajemen—meski bukan sebagai konsultan—tetapi sebagai lead counterpart di sisi clients atau pemakai jasa. Di Bakrie & Brothers, Darwin pernah menjadi lead counterpart Booz Allen dan McKinsey, dan melalui kegiatan ini kemudian berkenalan dan membangun persahabatan dengan para mitra senior dari perusahaan konsultan manajemen tersebut. Di Kementerian Negara BUMN, Darwin terlibat dalam penyusunan masterplan atau blueprint reformasi BUMN gelombang kedua dan menjadi lead counterpart untuk koordinator enam konsultan manajemen yang juga membantu menyempurnakan masterplan ini, yaitu McKinsey, BCG, Booz Allen, AT Kearney, PWC, dan EY.

 

Setelah pergantian menteri di Kementerian BUMN, Darwin berpikir inilah saat baginya untuk menahap ke depan, juga dengan ketertarikan yang semakin besar pada pekerjaan konsultan manajemen. Dengan pengalaman bekerja secara bersama-sama dengan para mitra senior dari perusahaan konsultan manajemen ini, mereka tidak lagi melihat Darwin dari ijazah sekolah atau dari ketrampilan dalam wawancara. Darwin kemudian mendapatkan kesempatan wawancara untuk masuk dalam posisi senior di McKinsey dan Booz Allen Hamilton. Pembicaraan dengan Booz Allen Hamilton berlangsung lebih cepat. Darwin memulai bekerja sebagai Country CEO Booz Allen Hamilton Indonesia, dan selama tujuh tahun dari awal 2000 hingga awal 2007, Darwin menjadi pembelajar sekaligus praktisi dan ahli di bidang strategi dan kepemimpinan perubahan.

 

Selama bekerja sebagai konsultan BoozAllen, Darwin memberikan nasehat pada pimpinan perusahaan atau pejabat pemerintah terkait isu isu strategi, pemasaran, organisasi, operasi dan kepemimpinan perubahan. Perusahaan perusahaan yang menjadi klien BoozAllen adalah pemain utama di sektor telekomunikasi, penerbangan, energi, otomotif dan perbankan selain perusahaan multinasional yang tertarik memasuki Indonesia. Salah satu contoh transformasi yang dibantu tim Booz Allen Hamilton adalah transformasi Telkomsel yang kemudian dijadikan sebagai studi kasus transformasi BUMN di negara berkembang oleh Stanford Business School.

 

Setelah lebih dari 7 tahun sebagai konsultan strategi dan kepemimpinan perubahan di Booz Allen, Darwin kembali merindukan bekerja sebagai eksekutif. Pembicaraan dengan Shell bermula pada pertemuan dengan Tan Chong Meng, yang saat itu merupakan orang Asia paling senior di Shell dan juga sebagai Chairman Asia Talent Council, yang bertugas menjaring dan mengembangkan talent Asia—baik internal maupun eksternal—untuk mengisi posisi atau jabatan senior di Shell. Saat kami berdua bertemu pertama kali pada awal tahun 2006, Chong Meng mengatakan bahwa lingkup usaha Shell Indonesia saat itu masih sangat kecil dan utamanya pemasaran pelumas. Akan tetapi Shell memiliki aspirasi yang besar di Indonesia, dan Shell sedang mencari dan akan membutuhkan nahkoda orang Indonesia untuk dapat merealisasikan aspirasi Shell di Indonesia. Setelah 12 kali mengikuti wawancara yang berlangsung di Jakarta, Singapura, dan London selama hampir 1 tahun, akhirnya saya diterima bekerja sebagai CEO Shell Indonesia sejak April 2007.

 

Sejatinya, Shell bukanlah perusahaan yang sering merekrut calon eksekutif dari luar untuk menjabat suatu posisi senior. Hal itulah yang membuat pengangkatan Darwin sebagai eksekutif senior di Shell Indonesia terkadang menjadi topik pembicaraan di berbagai kesempatan termasuk di media. Misalnya, saat Darwin menghadiri undangan makan siang di kediaman Duta Besar Singapura, Ashok Mirpuri memperkenalkan Darwin sebagai external hire yang langsung menjadi Country Chairman, suatu peristiwa yang sangat jarang terjadi di Shell. Bukan hanya itu, Dubes Ashok juga menyebutkan bahwa Darwin adalah orang Indonesia pertama yang menjadi CEO Shell Indonesia. Dubes Ashok memang mengetahui banyak hal tentang Shell, karena jauh sebelum bertugas sebagai Dubes Singapura di Jakarta, beliau pernah bertugas di Shell London.

© Darwin Silalahi | Visitors: 14,573